Tak Sesuai Harapan
“Terkadang sesuatu yang kau senangi akan
terasa lebih menyakitkan ketika kau tau itu tak seperti yang kau inginkan”
Kalimat
di atas tampaknya sangat tepat menggambarkan beberapa kekecewaan dalam diri
penulis. Hai teman-teman, kenalin aku Nanda. Mungkin kalian udah pada kenal ya.
Di sini aku mau berbagi sedikit sad moment yang mungkin sampai sekarang
sulit untuk dilupakan.
Singkat
cerita, penulis merupakan mahasiswi di salah satu perguruan tinggi kedinasan di
Indonesia. Sedih bercampur terharu bisa berkuliah di kampus ini. Sedihnya
mungkin terasa karena hingga saat ini, penulis belum pernah menginjakkan kaki
di kampus. Namun, masih selalu bersyukur bisa memperdalam ilmu di kampus
bergengsi ini.
Tahun
2020 merupakan tahun yang cukup sulit untuk penulis lewati. Banyak air mata
yang harus mengalir karena beberapa kondisi. Hilangnya momen-momen di akhir
kelulusan masa SMA, beberapa adaptasi akibat pandemic, dan rasa takut
(insecure) pada teman-teman satu kelas di saat tingkat I.
Pembelajaran
Jarak Jauh (PJJ) merupakan sesuatu yang cukup sulit untuk diterima penulis. Di
mana selama 12 tahun lamanya sekolah, penulis selalu melewatinya dengan tatap
muka. Memang tak semua terasa merugikan, terdapat beberapa situasi yang masih
membuat penulis bersyukur karena kuliah di rumah. Akses, fasilitas, dekat
dengan orang tua, dan mungkin tak perlu ribet untuk memikirkan menu makan
harian seperti yang dirasakan anak-anak rantauan saat kuliah. Namun, bukan ini sad
moment yang penulis ingin ceritakan.
.
.
.
Julukan maba yang menggantung pada diri penulis saat awal-awal memasuki dunia perkuliahan memberi sedikit rasa yang tak biasa. Takut, cemas, merasa tertinggal menjadi beban pikiran penulis pada saat tingkat I. Namun, sebenarnya beberapa mata kuliah di semester I masih bisa dianggap mudah karena hanya bersifat pengulangan dari beberapa pelajaran di SMA.
Singkat cerita, penulis sangat tertarik dengan salah satu mata kuliah yang bernama Pengantar Demografi. Baik materi yang tercakup di dalamnya maupun pembawaan dosen terkait, yang membuat penulis bersemangat dan enjoy menjalani mata kuliah ini. Memang dibandingkan mata kuliah lainnya, mata kuliah inilah yang bisa dibilang paling mudah tidak serumit pengantar ekonomi, alin, bahkan kalkulus. Namun, dibandingkan mata kuliah lainnya, mata kuliah ini juga yang paling memberi kesan menakutkan di akhir semester dan ini ternyata tidak hanya dialami penulis sendiri tetapi beberapa teman sekelas lainnya.
14 pertemuan dirasa cukup untuk menuntaskan seluruh materi yang tercakup dalam RPS. Vibes menegangkan serta menakutkan mulai hadir menghantui para mahasiswa yang mau tidak mau harus melalui ke tahapan selanjutnya yaitu Ujian Akhir Semester. Pembuktian kepahaman materi akan terlihat dari sini.
Selama kurang lebih tiga hari berjalannya UAS semester 1, penulis tidak mengalami kendala yang berarti sehingga bisa terus melanjutkan ke ujian pada hari selanjutnya. Tepat pada hari ke-empat di hari Kamis, 4 Februari 2021 dengan jadwal mata kuliah pengantar demografi menjadi salah satu pengalaman yang mungkin sampai saat ini tidak akan pernah penulis lupakan. Sebenarnya pada H-1 ujian pendemo penulis tidak merasa tegang ataupun takut. Justru lebih percaya diri dibandingkan mata kuliah lainnya. Latihan soal, tugas, hingga kuis yang penulis pelajari memberikan rasa percaya diri untuk dapat mengerjakan ujian di keesokan hari. Bahkan disini yang menjadi pengurang beban ialah ujian dilakukan dengan open book, dan open computer.
Keesokan harinya di saat ujian telah berlangsung, penulis di awal-awal melakukan skimming(membaca cepat) terhadap keseluruhan soal dan mengestimasi waktu yang dibutuhkan untuk tiap soal. Soal ujian pada hari itu hanya tiga dan semua merupakan soal perhitungan. Penulis merasa sedikit lega karena prediksi penulis tentang soal yang akan keluar benar hadir. Soal pertama diawali dengan life table. Ilustrasi tabel seperti dibawah.
Dengan angka desimal yang cukup banyak, akhirnya penulis memutuskan untuk menconvert pdf ke dalam excel dengan harapan agar lebih menghemat waktu. Akan tetapi masalah baru hadir disini, excel yang penulis gunakan tidak mengeluarkan hasil perhitungan yang penulis inginkan. Kurang lebih 20 menit penulis habiskan untuk mengutak-atik excel dan mencari-cari letak kesalahan hingga tidak mucul output seperti biasanya. Hingga akhirnya penulis memutuskan untuk mengerjakan soal pada nomor selanjutnya. Masih dengan pikiran dan perasaan takut terkait dengan soal nomor 1, penulis tetap berusaha fokus untuk menyelesaikan soal nomor 2 dan 3. Rasa ketakutan tersebut ternyata sedikit menghambat penulis untuk bisa fokus. Di tengah-tengah pengerjaan soal nomor 2, penulis kembali mengutak-atik excel. Walaupun pada akhirnya tidak membawakan hasil apapun.
30 menit menjelang akhir waktu ujian, akhirnya penulis berhasil menyelesaikan soal nomor 2 dan 3. Disini rasa lega hadir hanya sebentar dan tergantikan oleh kebingungan untuk mengerjakan soal nomor 1. Penulis sempat berpikir untuk mengerjakan life table tersebut menggunakan kalkulator. Namun, setelah dicoba kurang lebih 5 menit penulis menyadari hal ini sangat mustahil untuk diselesaikan dengan waktu yang tersedia. Dengan perasaan takut penulis banyak-banyak berdoa dan kembali mencoba mengerjakan soal tersebut di excel. Keadaan yang tidak berubah akhirnya membuat penulis putus asa hingga mengeluarkan sejumlah air mata.
Penulis kemudian terpikir untuk meminjam laptop milik adik penulis yang juga sedang melakukan PJJ di rumah. Rasa tegang disertai takut membuat penulis tidak bisa berpikir fokus dan sempat terdiam beberapa menit hingga akhirnya penulis tersadar dengan sisa waktu yang tidak lama. Mencoba mengetik manual puluhan angka desimal tersebut ternyata sangat memakan waktu. Hingga akhirnya, penulis memutuskan untuk meninggalkan soal nomor 1 karena waktu yang sudah lebih dan ketidakmungkinan menyelesaikan soal tersebut.
Setelah, ujian pendemo hari itu, penulis selalu dihantui rasa ketakutan terhadap hasil akhir ujian. Tak lama setelah ujian hari itu, PJ mata kuliah pendemo memberi kabar terkait ujian pendemo yang ternyataa. Satu kelas harus melakukan perbaikan atau remedial ulang yang sudah ditentukan harinya. Di sini, penulis baru menyadari ternyata tidak hanya penulis saja yang mengalami kesulitan di hari itu tetapi beberapa teman lainnya.
Namun, di sini rasa kecewa yang masih tertinggal ialah nilai akhir pendemo penulis tidak sesuai seperti yang diharapkan :( Mata kuliah lainnya yang penulis rasa cukup rumit malah memberi hasil yang lebih memuaskan. Di sini penulis baru menyadari untuk tidak bersikap berlebihan dan harus selalu menyiapkan segala bentuk kemugkinan kendala yang akan terjadi ketika ujian.
Komentar
Posting Komentar