Peningkatan Pariwisata Kalimantan Timur melalui Festival Budaya TIFAF

 

Gambar.1 Patung Naga di Pulau Kumala

Kutai Kartanegara sebagai salah satu kerajaan Hindu tertua di Indonesia tak lepas dari berbagai macam tradisi dan budaya yang terdapat di dalamnya. Upacara adat yang tidak pernah luput tiap tahunnya ialah erau. Pada awalnya erau dilaksanakan saat penobatan Aji Batara Agung Dewa Sakti yang diangkat sebagai Raja Kutai Kartanegara pertama(1300-1325).  Pada periode selanjutnya erau dilaksanakan sebagai upacara peringatan dan pergantian penobatan raja-raja di Kutai Kartanegara. Pelaksanaan erau terakhir yang menurut tata cara Kesultanan Kutai Kartanegara dilaksanakan saat pengangkatan Putra Mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat tahun 1965.

Gambar.2 Penobatan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI

Seiring berkembangnya waktu, pelaksanaan erau saat ini telah menjadi salah satu festival budaya masyarakat Kutai Kartanegara. Pada tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura bekerjasama dengan International Council of Organizations of Folklore Festival and Folk Arts (CIOFF) untuk melaksanakan erau yang dipadukan dengan International Folklore and Art Festival yang kemudian berubah nama menjadi Erau Adat Kutai International Folk Arts Festival (EIFAF). CIOFF sendiri merupakan kelompok perwakilan nasional non-profit festival seni lokal organisasi non-pemerintah. CIOFF berperan sebagai konsultatif UNESCO yang mengurus pelestarian kebudayaan dan menjembatani hubungan antar bangsa melalui festival-festival kebudayaan rakyat.

Gambar.3 EIFAF 2018

EIFAF biasanya dilaksanakan selama 8 hari yang meliputi berbagai upacara adat kutai hingga parade budaya internasional. Menurut Menpar Arief Yahya pada tahun 2018, EIFAF menjadi salah satu magnet yang kuat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kutai Kartanegara hal ini terbukti dari jumlah kunjungan wisman sebesar 1.450.748 orang. Dari serangkaian ritual adat yang dilaksanaakan yang paling ditunggu-tunggu masyarakat dan wisatawan ialah puncak erau. Saat puncak erau terdapat suatu tradisi yaitu mengulur patung naga. Tradisi yang satu ini cukup unik, karena sepasang replika naga besar akan diarak di kapal menyusuri sungai. Replika naga tersebut akan dilepaskan di Kutai lama yang kononya dipercayai oleh masyarakat adat sebagai sarang naga. Setelah peluncuran naga tersebut, masyarakat akan berbondong-bondong meraih sisik naga yang dipercaya dapat membawa keberuntungan.

Gambar.4 Tradisi mengulur Naga

Pada tahun 2019, pelaksanaan erau dilaksanakan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya karena harus dipisahkan antara upacara adat dan keseniannya. Erau sepenuhnya dilaksanakan oleh Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura sedangkan festival budaya yang bertajuk internasional diserahkan oleh dinas pariwisata yang kemudian berubah nama menjadi Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF). Dalam pagelaran TIFAF terdapat serangkaian acara seperti karnaval seni internasional, street performance, festival seni daerah kutai, kunjungan ke sekolah dan permainan tradisional.

Seperti saat diselenggarakannya EIFAF, pada TIFAF tahun 2019 juga diramaikan oleh beberapa  grup kesenian rakyat mancanegara, seperti Sri Lanka, Thailand, Rusia, Belanda, Rumania dan Timor Leste. Tiap-tiap negara akan menampilkan kebudayaan yang dimiliki oleh negaranya. Seperti pada gambar dibawah yang memperlihatkan delegasi Rusia sedang melakukan atraksi kesenian khas negaranya.

Gambar.5 TIFAF 2019
TIFAF sebagai salah satu festival kebudayaan yang dilaksanakan setiap tahun tentu memiliki dampak yang cukup besar baik bagi pariwisata maupun perekonomian di Kutai Kartanegara. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas pariwisata Kutai Kartanegara, Sri Wahyuni yang mengatakan jumlah perputaran ekonomi selama festival melalui transaksi di arena kukar expo mencapai 5 milyar yang belum termasuk estimasi belanja pengunjung di luar expo seperti hotel, restoran dan toko-toko suvenir lainya. Bukan hanya sebagai salah satu ajang pengembangan perekonomian, melalui festival ini juga digunakan sebagai pengenalan Kutai Kartanegara dikancah internasional. Namun, pelaksanaan TIFAF selama pandemi tidak dijalankan karena belum mendapatkan izin dari CIOFF. Meskipun begitu, pada tahun 2022 TIFAF rencananya akan kembali diadakan dengan salah satu inovasi yaitu melalui streaming dan dengan catatan tidak mengundang tamu dari luar negeri jika kondisi masih tidak memungkinkan.

Citra TIFAF di mata nasional semakin menggelegar dengan terpilihnya festival ini dalam 110 Kharisma Event Nusantara (KEN) yang resmi diluncurkan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, pada tanggal 1 Maret 2022. TIFAF menjadi salah satu perwakilan dari Kalimantan Timur dalam event Kabupaten/Kota bersama dengan Festival Balikpapan, dan Festival Tiga Danau. KEN merupakan strategi kolaboratif antara Kemenparekraf dengan pemerintah daerah di 34 Provinsi Indonesia yang bertujuan mempromosikan destinasi pariwisata, meningkatkan kunjungan wisatawan, memberdayakan potensi lokal secara ekonomi, sosial budaya, dan juga lingkungan dengan asas berkelanjutan yang telah diadopsi secara global.



Daftar Bacaan:

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Nutrition Our Future

Mengenal lebih dekat Sustainable Development Goals (SDGs)

Deforestasi Hutan Pemicu Perubahan Iklim di Kalimantan Timur