Manfaat Mindfulness sebagai Salah Satu Self-Healing

 

    Kehidupan manusia tidak lepas dari peranan masa lalu dan juga masa depan sebagai salah satu tujuan keberlangsungan hidup. Tidak jarang, seseorang terlalu larut dalam pemikiran-pemikiran tersebut dan tidak dapat menikmati masa saat ini dengan baik. Pada akhirnya, seseorang akan merasa jika waktu berjalan begitu cepat dan tidak dapat menikmati apapun dari setiap proses kehidupannya.

    Hal ini mungkin banyak dirasakan terutama pada masa pandemi covid-19, yang membawa perubahan pada setiap aspek kehidupan mulai dari kebiasaan sehari-hari hingga adaptasi terhadap pekerjaan. Tidak sedikit orang yang mengalami gangguan psikologis hingga turunnya minat terhadap suatu kegiatan pada masa pandemi ini. Hal ini dapat terlihat dari temuan awal survei internasional terhadap anak-anak dan orang dewasa yang dilaksanakan di 21 negara oleh UNICEF dan Gallup yang menunjukkan jika terdapat median 1 dari 5 anak muda usia 15-24 tahun yang menyatakan sering mengalami depresi dan tidak terlalu berminat untuk mengikuti kegiatan selama pandemi (unicef.org, 2021).Permasalahan ini merupakan reaksi dari keadaan yang tidak diinginkan. Ketika hal ini terus dibiarkan maka akan berdampak pada kesehatan mental. Berbagai upaya perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan ini, salah satunya dengan self-healing, yaitu sebuah proses penyembuhan luka batin dengan bantuan kekuatan dalam diri. Self-healing lebih menitikberatkan pada kesadaran jika tubuh manusia memiliki kemampuan untuk melakukan penyembuhan diri.

Apa itu Self-Healing?

    Self-healing atau penyembuhan diri sendiri merupakan suatu bentuk penyembuhan terhadap luka batin baik itu trauma, kecemasan, maupun stress yang pernah dialami dengan kemampuan yang ada dalam diri. Pemulihan diri dengan self-healing tidak menggunakan obat, melainkan dengan mengeluarkan perasaan serta emosi yang terpendam dalam tubuh. Penerapan self-healing membutuhkan kesadaran jika kesehatan mental individu sedang tidak baik dan harus segera dipulihkan.

    Menurut Rahmasari, (2020) setidaknya terdapat sembilan bentuk dari self-healing, yaitu forgiveness, gratitude, self-comparison, mindfulness, positive self-talk, expressive writing, relaxation, self-management, dan imagery. Kemampuan dalam melakukan self-healing setiap individu berbeda-beda sehingga kesuksesan dalam penerapannya akan sangat bergantung pada kecocokan self-healing yang dilakukan. Namun, pada intinya self-healing memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk lebih mengenali diri sendiri dan mengeluarkan berbagai ekspresif, amarah, hingga kenangan buruk yang ada dalam pikiran individu.

    Self-healing memiliki keuntungan tersendiri selain dapat dilakukan secara mandiri, konsistensi dari penerapannya dapat mempertahankan dan memelihara kesehatan mental. Adapun manfaat yang diperoleh dari self-healing menurut berbagai penelitian ilmiah, yaitu dapat mengatasi depresi (Ivanchenko et al., 2011), memperbaiki suasana hati atau mood (Ivanchenko, 2020), memberikan efek positif bagi psikologis individu seperti mengurangi kecemasan dan kepanikan (Ankrom, 2021), dan temuan yang dilakukan oleh Farmawati et al., (2020) menunjukkan jika self-healing dapat menguatkan sistem imun. Dengan demikian, self-healing cocok dilakukan selama masa pandemi Covid-19, selain karena dapat meningkatkan sistem imun, berbagai manfaat lainnya juga sangat dibutuhkan untuk mengatasi berbagai permasalahan psikologis yang terjadi selama pandemi.


Mindfulness sebagai Salah Satu Self-healing


    Mindfulness pada mulanya berasal dari filosofi Buddha dan tergolong dalam bentuk ketrampilan yang membantu individu agar memiliki kesadaran dan tidak bersikap reaktif terhadap keadaan yang terjadi saat ini (Germer, Siegel, dan Fulton, 2005 dalam Maharani, 2016). Menurut Segal, Williams, dan Teasdale, (2012 dikutip dalam Islamiyah et al., 2020)Mindfulness melibatkan kesadaran sepenuhnya pada pengalaman yang terjadi di setiap momen yang sengaja dibawa seseorang dengan cara yang lembut, tanpa penghakiman, dan penuh penerimaan” (p. 68). Inti dari beberapa konsep tersebut menyatakan untuk menjadikan seorang mindful ialah sikap sadar terhadap kondisi yang terjadi saat ini, terlepas dari kejadian pada masa lalu ataupun masa depan.

    Pada praktiknya, terdapat tiga komponen utama yang harus dimiliki individu ketika menerapkan mindfulness, yaitu kesadaran (awareness&attention), pengalaman saat ini (present moment), dan sikap menerima(acceptance) (Bishop et al., 2004). Ketiga komponen ini saling berkaitan dalam menunjang keberhasilan individu saat menerapkan mindfulness. Kesadaran yang dimaksud ialah perhatian penuh atas kejadian yang terjadi pada saat ini dan membawanya kepada sikap penerimaan tanpa adanya penghakiman. Dengan demikian, seorang individu yang terbiasa bersikap mindfulness akan menyadari atensi dari setiap peristiwa yang terjadi tetapi tidak larut pada masa tersebut. Hal ini berperan penting dalam meningkatkan fokus individu terhadap setiap kejadian yang dialami.

    Selain dapat membantu meningkatkan fokus, dalam berbagai penelitian ilmiah telah ditemukan beragam manfaat yang didapatkan setelah menerapkan mindfulness antara lain: a) Dapat meningkatkan dan memperbaiki mood, mengurangi kelelahan, dan kecemasan (Zeiden et al, 2010, dikutip dalam Werty et al., 2021); b) Dapat membantu remaja mencapai kesejahteraan dan kesehatan emosi serta terhindar dari perilaku kekerasan, bullying, dan bolos sekolah (Bluth dan Blanton, 2014, dikutip dalam Savitri dan Listiyandini, 2017); c) Dapat membantu meningkatkan konsep diri pada remaja menjadi lebih positif (Wulandari & Gamayanti, 2014); d) Dapat membantu individu dalam memilah perhatian yang tidak penting pada masa lalu sehingga dapat meningkatkan fokus pada keadaan saat ini (Desrosiers, Vine, Curtiss, dan Klemanski, 2014, dikutip dalam Islamiyah et al., 2020); e) Mindfulness yang disertai dengan rasa syukur dapat menurunkan stress (Romadhani dan Hadjam, 2017, dalam Rahmasari, 2020). 

 

 

Daftar Pustaka 

Ankrom, S. (2021). Deep breathing exercises to reduce anxiety. Www.Verywellmind.Com. https://www.verywellmind.com/abdominal-breathing-2584115

Bishop, S. R., Lau, M., Shapiro, S., Carlson, L., Anderson, N. D., Carmody, J., Segal, Z. V, Abbey, S., Speca, M., Velting, D., & Devins, G. (2004). Mindfulness: A proposed operational definition. Clinical Psychology: Science and Practice, 11(3), 230–241. https://doi.org/10.1093/clipsy.bph077

Farmawati, C., Ula, M., & Qomariyah, Q. (2020). Prevention of Covid-19 by strengthening body’s immune system through self-healing. Populasi, 28(2), 70–81. https://doi.org/10.22146/jp.63430

Islamiyah, A., Sismawati, M., & Kaaloeti, D. V. S. (2020). Pengaruh psikoedukasi mindfulness singkat pada kemampuan regulasi emosi mahasiswa. Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan, 8(1), 66–74. https://doi.org/10.22219/jipt.v8i1.9444

Ivanchenko, A. (2020). Positive impact of recreational techniques for the self-healing of the body O impacto positivo das técnicas recreativas do autorestabelecimento do corpo. 1–13.

Ivanchenko, A., Bowden, D., Goddard, L., & Gruzelier, J. (2011). A randomised controlled single-blind trial of the efficacy of Reiki at benefitting mood and well-being. Evidence-Based Complementary and Alternative Medicine, 2011, 1–13. https://doi.org/10.1155/2011/381862

Maharani, E. A. (2016). Pengaruh pelatihan berbasis mindfulness terhadap tingkat stress pada guru PAUD. Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, 9, 100–110.

Rahmasari, D. (2020). Self healing is knowing your own self. Unesa University Press: Surabaya

Savitri, W. C., & Listiyandini, R. A. (2017). Mindfulness dan kesejahteraan psikologis pada remaja. Psikohumaniora: Jurnal Penelitian Psikologi, 2(1), 43–59. https://doi.org/10.21580/pjpp.v2i1.1323

unicef.org. (2021). Dampak Covid-19 terhadap rendahnya kesehatan mental anak-anak dan pemuda hanyalah ‘puncak gunung es’ - UNICEF. Www.Unicef.Org. https://www.unicef.org/indonesia/id/press-releases/dampak-covid-19-terhadap-rendahnya-kesehatan-mental-anak-anak-dan-pemuda-hanyalah

Werty, M., Situmorang, N. Z., & Mujidin. (2021). Hubungan antara mindfulness dan kesejahteraan subjektif mahasiswa selama pandemi. Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA, 13(1), 12–23.

Wulandari, F. A., & Gamayanti, I. L. (2014). Mindfulness based cognitive therapy untuk meningkatkan konsep diri remaja post-traumatic stress disorder. Jurnal Intervensi Psikologi, 6(2), 265–280. https://doi.org/https://doi.org/10.20885/intervensipsikologi.vol6.iss2.art9

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Our Nutrition Our Future

Mengenal lebih dekat Sustainable Development Goals (SDGs)

Deforestasi Hutan Pemicu Perubahan Iklim di Kalimantan Timur